• Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826

Ahlan wa Sahlan Ya Ramadhan 1446 H

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur".

(QS. Al Baqarah 2: Ayat 185)

Berkata as-syaikh Sayyid Quthb "Ayat ini menegaskan kemudahan dan kelapangan yang diberikan oleh Islam melalui puasa Ramadhan. Dia menekankan bahwa puasa bukanlah beban, tetapi sarana untuk mencapai ketakwaan dan kesadaran spiritual. Dia juga menyoroti kebijaksanaan Allah dalam memberikan keringanan bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan". (Lihat Fi Zilal al-Qur'an, Jilid 1, Halaman 190-192)

Imam Al-Qurtubi berkata "Ayat ini menegaskan keutamaan bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur'an. Dia juga membahas hukum-hukum terkait puasa, seperti keringanan bagi orang yang sakit atau musafir, dan kewajiban mengganti puasa di hari lain bagi mereka yang tidak mampu berpuasa". (Lihat Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, jilid 2, halaman 280-285)

Berkata pula Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, halaman 510-515  "Bahwa ayat tersebut menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu. Dia juga membahas keutamaan bulan Ramadhan dan kewajiban puasa, serta keringanan yang diberikan kepada orang yang sakit atau dalam perjalanan".

Berkata syaikhul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa bahwa "Ayat tersebut membahas konteks hukum-hukum puasa dan keringanan yang diberikan oleh syariat. Dia menekankan pentingnya niat dalam berpuasa dan mengganti puasa di hari lain bagi mereka yang tidak mampu berpuasa pada bulan Ramadhan".

Penjelasan-penjelasan dari beberapa ulama yang dinukil dari kitab-kitab tersebut, dapat kita tarik simpulan bahwa ayat ini menegaskan pentingnya puasa Ramadhan sebagai ibadah yang kita laksanakan sebagai sarana untuk makin mendekatkan diri kepada Allah ta'ala, serta kebijaksanaan dan kemudahan yang diberikan oleh syariat Islam. Sehingga, hal ini bagi kita haruslah jadi momentum, sebagaimana imam Ghazali dalam 'Ihya Ulumuddin misal, menyebut ramadhan sebagai Sahrul mubarak, bulan penuh barakah, yang beliau sendiri meyebutkan bahwa barak itu sendiri bermakna ziadatul khair, bertambahnya kebaikan demi kebaikan.

Maka, tak ayal lagi, kita senantiasa berharap bahwa pada Ramadhan di tahun ini mudah-mudahan kita mampu melaksankan segala apa yang telah kita programkan dan dipenuhi dengan keberkahan dalam setiap langkah dan tindak kita. Sebab dalam diri setiap mukmin, tentu saja selalu ada yang namanya khauf (rasa takut) dan roja' (penuh harap), yang menyertai setiap amalan yang sedang dan akan dilakukan. Demikian.

Zakat Infaq Shodaqoh

Graha Dhuafa Indonesia senantiasa berkomitmen untuk terus ambil peran dalam menjaga generasi pelanjut.