Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Zakat Infaq Shodaqoh
Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Pada akhir abad ke-19 dari kota pesisir yaitu Jepara inilah, lahir seorang perempuan yang kelak dikenang sebagai simbol emansipasi dan kebangkitan.
Di tengah keterbatasan zamannya, perempuan itu bernama Kartini menyalakan pelita pengetahuan—sebuah ikhtiar yang, bila dibaca hari ini, selaras dengan nilai-nilai dasar dalam Islam tentang ilmu, akhlak, dan keadilan.
Ia tumbuh dalam struktur sosial feodal yang membatasi gerak perempuan, terutama dalam akses pendidikan. Namun, dari balik dinding pingitan, ia mengasah nalar kritis melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Kumpulan surat itu kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang—sebuah judul yang menjelma menjadi slogan lintas zaman, menandai optimisme bahwa keterbatasan bisa dilampaui oleh cahaya pengetahuan.
Kartini memiliki keinginan kuat untuk belajar, memahami, dan kemudian mengubah keadaan. Ia lakukan demikian akan kesadaran untuk lebih tahu akan pengetahuan dan pikirannyang kritisnya hingga suatu saat makin kuatnya cita-citanya atas inspirasi wahyu pertama dalam Al-Qur'an yang menegaskan perintah membaca—sebuah simbol awal dari peradaban berbasis pengetahuan.
Kartini melihat pendidikan sebagai kunci pembebasan perempuan dari ketertinggalan. Baginya, perempuan yang terdidik tidak hanya mengangkat dirinya, tetapi juga generasi yang dilahirkannya. Gagasan ini beresonansi dengan konsep Islam tentang peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak—penentu kualitas generasi masa depan.
Kartini tidak hanya berbicara tentang “Habis Gelap Terbitlah Terang”, namun ia mengupayakannya. Sekolah yang ia dirikan menjadi bukti konkret bahwa gagasan harus menjelma tindakan. Di titik ini, Kartini bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga representasi nilai-nilai keislaman yang menempatkan ilmu, keadilan, dan akhlak sebagai pilar kehidupan.
Dalam perspektif Islam, cahaya (nur) kerap menjadi metafora bagi hidayah—petunjuk yang membawa manusia keluar dari kegelapan.
Lebih dari seabad setelah kepergiannya, pertanyaan yang diajukan Kartini belum sepenuhnya usang. Sudahkah ruang-ruang sosial memberi kesempatan yang adil? Dan yang tak kalah penting, apakah pendidikan yang kita kejar telah melahirkan manusia yang berakhlak?
Membaca Kartini hari ini berarti membaca ulang komitmen kita terhadap nilai-nilai tersebut akan kepedulian disetiap generasinya. Ia bukan hanya tokoh sejarah, melainkan cermin yang memantulkan kondisi kita sekarang.
Berkaca dan terinpirasi dari itu, kami LAZ Graha Dhuafa Indonesia pun senantiasa berkomitmen untuk terus berusaha menjaga generasi saat ini dan masa depan, berkaca dari upaya generasi sebelumnya.
Zakat Infaq Shodaqoh