Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Zakat Infaq Shodaqoh
Jl. Cijagra No.21, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Bandung 40826
Pernahkah kita mengetahui bagaimana sebuah kalimat yang pernah diucapkan Nabi saw sampai pada kita, umat akhir zaman? Perawi hadits yang sering kita dengar dan baca ialah Imam Bukhari & Imam Muslim. Mereka hidup pada tahun 800an M, menghimpun perkataan Nabi Saw yang hidup pada 600an M. Jarak ratusan tahun tsb dilakukan tanpa teknologi internet seperti saat ini.
Bagaimana mereka menghimpun kalimat Nabi Saw secara utuh tanpa ada yang berubah satu huruf pun?
Jika pada sebuah lomba lari estafet, tingkat estafet adalah 'ucapan Nabi Saw' maka pelarinya adalah para penghafal/perawi hadits. Tugas perawi sangat berat yaitu mengoper tongkat dari generasi ke generasi tanpa boleh menjatuhkannya, menggoresnya, atau mengubah warnanya sedikit pun. Inilah yang disebut sistem 'sanad' atau rantai periwayat.
Alur rantai periwayat dimulai dengan : Rasulullah Saw bersabda di hadapan para sahabat, kemudian generasi para sahabat (generasi 1) mendengar, menghafal dan mengajarkannya kepada generasi "tabi'in" (generasi 2), kemudian "tabi'in" mengajarkannya ke "tabi'ut tabi'in" (generasi 3), hingga sampailah kepada generasi pengumpul, Imam Bukhari, Imam Muslim, dll.
Generasi pengumpul tidak menulis dengan mengarang bebas dan harus memastikan urutan nama-nama pelari estafet itu tersambung tanpa putus. Misalnya: "Telah menceritakan kepada kami (guru Bukhari), dari (fulan), dari (fulan), dari (Sahabat Nabi), bahwa Rasulullah bersabda... ". Jika dari runtutan nama periwayat (disebut sanad) tersebut hilang, hadis tersebut tertolak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak hanya menerapkan sanad, bagi perawi-perawi yang masuk dalam rantai periwayatnya. Ada dua syarat yang diterapkan kepada para perawi yang masuk rantai periwayat, yakni : 1) 'adil (shaleh, jujur, tidak pernah berbohong seumur hidupnya, dan menjaga muru'ah atau harga diri), dan 2) dhabit (memiliki kemampuan hafalan yang tajam, yakni sekali dengar langsung hafal selamanya). Hal tersebut dilakukan karena Imam Bukhari tidak ingin mengambil resiko ucapan Nabi Saw dikotori oleh orang yang tidak kredibel.
Imam Bukhari yang kita kenal bernama Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari. Beliau lahir lahir di Bukhara, Uzbekistan pada bulan Syawal 194 H. Bukan orang Arab, beliau tumbuh sebagai yatim, buta saat masih kecil namun Allah swt mengaruniakan kembali penglihatannya. Beliau menuntut ilmu sejak umur 10 tahun & menghafal ribuan hadis. Imam Ahmad berkata tentang beliau, "Khurasan tidak pernah menghasilkan orang seperti dia. " Ibnu Khuzaimah berkata, "Aku belum pernah melihat ada seorang pun di kolong langit ini yang lebih mengetahui tentang hadis Rasulullah Saw dan lebih hafal melebihi Bukhari." Tirmidzi berkata, "Saya belum pernah melihat ada orang di Irak dan Khurasan yang lebih mengetahui tentang cacat hadis, sejarah, dan ilmu tentang sanad melebihi Bukhari."
Beliau rela menempuh perjalanan ribuan kilometer, dari Bukhara ke Hijaz, Irak, Mesir, dan Syam selama 40 tahun hanya untuk mengumpulkan hadits dan memverifikasi satu nama perawi. Imam Bukhari berguru kepada lebih dari seribu guru yang ditemuinya di negara & wilayah yg dikunjunginya. Di antara guru-guru beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Hamad bin Syakir, Makki bin Ibrahim, dan Abu 'Ashim an-Nabil.
Terdapat kisah tentang ketatnya standar beliau. Suatu hari, beliau menemui seorang perawi hadits. Sesampainya di sana, beliau melihat orang tsb sedang memanggik kudanya dengan karung kosong (berpura-pura ada makanan agar kuda itu mendekat). Melihat hal itu, Imam Bukhari langsung memutar badan pulang. Beliau berkata dalam hati, "Jika kepada hewan saja dia berani menipu, apalagi kepada ucapan Nabi?" Hadits dari perawi itu langsung ditolak. Begitu mahal harga sebuah kejujuran di mata Imam Bukhari, sehingga dari 600.000 hadits yang beliau hafal, hanya sekitar 7000an yang lolos masuk ke kitab shahih-nya. Beberapa karya Imam Bukhari yang paling terkenal adalah "al-Jami' ash-Shahih (Shahih Bukhari), at-Tarikh al-Kabir, al-Adab al-Mufrad, dan Khalqu Af'al al-Ibad.
Di antara murid-murid Imam Bukhari ialah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, an-Nasa'i, Muhammad bin Nashr al-Maruzi. Salah satu murid beliau, Imam Muslim bin al-Hajjaj adalah perawi yang berasal dari Naisabur (Iran). Imam Muslim adalah pengagum Imam Bukhari, sang perintis yang perfeksionis dalam validasi. Imam Muslim seorang ahli strategi yang menyempurnakan sistematika penulisan. Hubungan guru - murid antara Imam Bukhari & Imam Muslim ini saling melengkapi. Jika kita mendengar istilah "muttafaqun 'alaih" yang berarti disepakati keduanya, itu adalah tingkatan hadits tertinggi di muka bumi. Hadits tersebut telah lolos dari saringan super ketat Imam Bukhari dan verifikasi sistematis Imam Muslim.
Selama 16 tahun Imam Bukhari menulis kitabnya, beliau akan mandi, berwudhu dan shalat istikharah dua rakaat setiap kali hendak menuliskan satu hadits. Beliau tidak menulis, kecuali benar-benar yakin kepada Allah. Sementara itu, beberapa kitab karya Imam Muslim yang terkenal ialah al-Jami' ash-Shahih (Shahih Muslim), al-Kuna wa al-Asma, at-Tabaqat, at-Tamyiz, dan al-Mufradat wal-Wahdan.
Imam Bukhari meninggal dunia pada malam IdulFitri tahun 256 H. Sementara itu, Imam Muslim meninggal pada bulan Rajab tahun 261 H. Ingatlah, setiap kita membaca "Rasulullah saw bersabda, ... " atau sebuah hadits, kalimat tersebut telah melewati waktu dan ribuan kilometer yang dijaga oleh hafalan para perawi jujur dan disaring oleh ketelitian Imam Bukhari & Imam Muslim. Merekalah para penjaga agama Allah, sehingga Islam yang sampai kepada kita hari ini bukanlah dongengan orang-orang dahulu.
Zakat Infaq Shodaqoh